Masih di Gramedia…
“Eh kamu udah bayar kah? Kenapa ga bilang-bilang?”
Kia bersegera ngeloyor ke meja kasir. Menggondol Laskar Pelanginya Andrea Hirata dan dua kamus bahasa jepang. Hah! Ingat banget tadi waktu di rak buku sastra nemuin tuh kamus-kamus nihon, Kia sempet-sempetnya praktek. Lah, sekali ngomong nya sambil ngikik gitu, walhasil aku ama Ifah cuma bisa nahan ketawa ngeliat ekspresi Kia yang wajahnya dikeras-kerasin ala orang jepang, trus badan ikut dibungkuk-bungkukin. Ah, ga jelas banget dah. Aku cuma berdoa dalam hati, mudah-mudahan orang-orang yang melihat kami ga mengira bahwa kami terserang epilepsi akut. Oh God! Tiga dara manis gitu loh! Single lagi. Hehe.
“Situ nggak nanya” seloroh ku. Haha, dari tadi kan Aku ama Ifah nungguin doski aja buat bayar. Lah ternyata dianya ga nyadar. Dan akhirnya waktu terlewatkan dengan kegilaan di rak “KESEHATAN” (Dodol#1).
Kulongokan kepala ke meja kasir. Wow! Panjang eui. Dan Kia yang malam itu berkerudung kuning terlihat manis banget nyempil di tengah-tengah. Akhirnya kuseret ifah ke rak kaset-kaset. “Eh liat-liat VCD jepang yuk, kali aja ada film-film yang bagus” kataku yang sepertinya ngomong sendiri. Ifah hanya mengikutiku tapi kayaknya pikirannya kemanaaa gitu. Ah bodo amat! Amat aja ga mesti mau mikirin Ifah. He. Tuh anak emang bener-bener melo banget deh. Hmm… klo dipikir-pikir, yaa wajar sih, secara dia mo pulang kampung. But, zaman gini? Kira-kira dia mikir ga ya klo udah ada media canggih buat komunikasi, kayak handphone, email, facebook gitu? Kok ya dia berasa sediiiihhh ninggalin Kalsel. Atau jangan-jangan tuh anak lagi patah hati ya ama orang Kalsel? Atau lagi jatuh cintrong ama anak Kalsel. Oh, si single yang satu itu emang suka menyembunyikan perasaannya pada raut wajah yang moody. Haha, artinya kagak disembunyikan dunk. Hee.
Pegel-pegel juga muter-muter ga jelas gini. Ku tengok kembali meja kasir. Oh God! Kia masih manis banget bertengger di tengah-tengah. Lah, napa juga dari tadi kagak maju-maju ya dia? Ah auk ah.
“Eh ti ti… ternyata ada jua film proposal ya?” Ifah menjawil ku. Kulirik VCD yang Ia tunjuk. The Proposal-nya si Sandra Bullock. Kulirik Ifah. Eh senyum-senyum dia. Ah dasar lagi kesetrum kabel cinta nih anak.
“Ya amplop. Ni mah film lama atuh neng. Aku punya download-annya”
Mata ifah seperti bertanya, “Ah masaa…”
“Tapi udah kuhapus, heee”
Ifah mendengus. Nggak tega melihat tanda tanya dikepalanya yang membanjir, akupun sedikit menceritakan kisahnya.
“Tuh kisah tentang bos killer yang mendadak bertunangan ama sekretarisnya karena takut dideportasi”
Ifah hanya manggut-manggut.
“Nah, klo ini kita pernah nonton kan? Aku mintanya ke ente deh downloadannya” kutunjuk film barat berjudul My Sister Keeper.
“Hmm… masa sih? Aku ga ingat tuh, emang aku pernah nonton film ini ya?” ifah bertanya-tanya yang berakhir dengan plototan mataku. Yee… situ yang jalanin hidup, napa nanyanya ke kite. Gubrrak! Makin ga jelas si Ifah deh.
Fiuh! Akhirnya aku memilih duduk di sebuah kursi di dekat pintu masuk. Ada sebuah layar monitor bergambar di depannya. Tapi aku sama sekali ga berminat mengutak-atik tuh barang. Aku cuma pengen numpang duduk. Penat booo!. Aku pun membelakangi tuh monitor.
Tiba-tiba…
“Bukan itu warnanyaaa…”
Sebuah suara tepat dari belakangku nyaring. Karena kaget akupun menoleh. Whaaattttss? Si Melo udah senyum-senyum di belakangku. Tangannya memegang mouse.
“Ngapain?” tanyaku.
“Hehe, iseng aja pencet-pencet, ternyata mainan” ujarnya masih senyum-senyum.
Ternyata, tempat yang kami duduki adalah layanan untuk anak-anak yang pengen mencoba permainan yang dijual di tempat itu. Permainannya adalah dengan mencocokan warna dengan nomer di gambar monitor. Kalau benar maka akan berbunyi : “Ya! Kamu benar”, tapi kalau salah suara “Bukan itu warnanyaa..” yang akan keluar. Nyaring. Suwerr deh, sangat nyaring!
Wah, asli malu banget. Mana banyak petugas di sekitar kami. Mereka hanya senyum-senyum aja. Bisa jadi mereka berfikir, ah kasihan banget ibu-ibu ini, masa kecilnya pasti kurang bahagia. OMG! Harga diri kami sebagai ladies pasti akan tercoreng.
“Ah ni mainan untuk anak-anak lo” ujarku ke Ifah. Dia cuma senyum-senyum. Kupikir itu senyum-senyum penyesalan, ternyata… dengan cekatan tangan-tangan Ifah sudah menekan-nekan mouse lagi. Dan Ia pun bermain dengan asyiknya. Fiuh!
Anehnya, seperti terhipnotis – meskipun aku ga pernah dihipnotis lo – mataku terpana melihat kelihaian tangan Ifah memainkan permainan itu. Dan dalam waktu singkat, dia pun menyelesaikan babak pertama. “Weii hebaatt..” mulutku bersorak demi merayakan kemenangan Ifah. Ifah tersenyum bangga.
Namun, keasyikan kami harus lenyap oleh sebuah suara,
“Mbak.. Mbak.. maaf ada anak yang mau main” seorang petugas tersenyum ramah kepada kami, dibelakangnya gadis kecil malu-malu melihat monitor permainan. Agak takut juga kelihatannya karena yang duduk di situ adalah dua makhluk yang meskipun amat manis namun sangat berpotensi masuk kategori “tua”.
“Oh,, ya ya, silahkan” akupun tergagap dan segera berdiri menjauh. Ifah pun demikian. Kulihat petugas-petugas disekitar kami hanya senyum-senyum.
Oh, itu adalah senyum paling mematikan! Kemana harus kucari harga diriku ya? Hiks. Gara-gara Ifah nih. Eh mana tuh anak? Aku pun celingak-ceinguk mencari sosok berjilbab biru yang sok sok melo itu. Dan Ia kudapati sudah asyik dengan VCD-VCD lagi. Kuhampiri Ia. Tak lama, Kia juga udah nongol. Syukurlah, akhirnya kami bisa enyah dari kedodolan ini.
“Yuk pulang..” ujarku segera.
“Eh Kia, punya kartu penitipan lah? Aku lupa tadi minta. He” Ifah meringis.
Hoalaaahhh.. kebiasaan teledor kok dipelihara to Buuuu… Gubrrakkk!
Akhirnya, di pelataran parkir…
“Lapar nih…” – aku.
“Iya. Cari makan yuk.” -- ifah.
“Yang enak dan murah dimana?” – aku.
“Di siring aj yuk, makan jagung” – Ifah.
Aku dan Kia mengangguk.
Huh! Ternyata manusia-manusia dodol dengan gampang melupakan kedodolannya akibat rasa lapar.
Catatan kaki :
~ TIDAK ADA.
Abis baca buku-buku gokil, so jadi ngiler pengen nulis hal-hal berbau gokil *kagak ape2 dung ya ngekor, tp positif lah hehe.
Setelah dipikir2 kan kehidupan koe selama ini banyak jg kegokilannya, sapa tau ada penerbit yg jatuh cintrong ama tulisan2 kagak jelas berikut ini *ngehayal buu...
Oke deh, met menikmati meski dengan sangat amat terpaksa *senyum manis cing!
Setelah dipikir2 kan kehidupan koe selama ini banyak jg kegokilannya, sapa tau ada penerbit yg jatuh cintrong ama tulisan2 kagak jelas berikut ini *ngehayal buu...
Oke deh, met menikmati meski dengan sangat amat terpaksa *senyum manis cing!
Senin, 17 Oktober 2011
Rabu, 12 Oktober 2011
Dodol #1 : Don’t Judge The Book From The Cover!
Malam itu, di Gramedia – Veteran setelah berhasil menggondol Benny Arnas, Dee, dan Mona Sylviana, akhirnya Aku, Ifah en Kia mutusin duduk-duduk di salah satu bangku baca.
“Guys, coba tebak, kira-kira buku yang judulnya stop the clock itu romantis ga?” tiba-tiba Kia angkat bicara seraya menunjuk buku di deretan belakangku dan Ifah. Senyumnya begitu misterius. Aku dan Ifah saling pandang.
“Hmm… romantis kayaknya” Ifah agak ragu. Tapi sorot matanya berpendar aneh. Aku bergidik. Ah, baru nyadar kalo akhir-akhir ini tuh anak emang bau-bau melo gitu. Hiii…
“Gimana dulu cara kita mengetahui kebenarannya?” tanyaku nyaring. Menantang senyum maut sang penanya.
Kia mulai menampakkan deretan giginya. Geli sendiri rupanya. Melihat kejanggalan dalam diamnya Kia itu, akhirnya Aku dan Ifah memutuskan untuk menoleh ke belakang. Dan… teng tere tengg… sebuah buku tebal bertuliskan “Stopping The Clock” terpajang manis di rak paling atas. Diam angkuh memamerkan kedigjayaannya menjadi the top. Demi melihat cover buku itu, ifah semakin melengkungkan bibirnya.
“Nah, apa kubilang,,,pasti buku romantis tuh?”
Ya. Gambar di cover buku itu memang mengisyaratkan fenomena keromantisan. Sepasang kakek nenek duduk bersisian di sebuah jembatan sembari keduanya menatap ke depan seperti menyaksikan sebuah keindahan yang sangat. Namun sebaris kalimat di atas judul buku itu yang ditulis lebih kecil, membuatku sangat tidak sepakat dengan Ifah.
“Buku gini mana romantisnya buu?” ujarku sambil menjumput sang buku dari peraduannya. Si the top hanya bisa pasrah begitu kedigjayaannya kurenggut dengan mudah. Penjajahan itupun melahirkan kemenangan diwajahku atas Ifah.
“Nih kubacakan ya,,, Stopping The Clock : Sehat Hingga Usia Senja! Hah! Romantis apaan?” kupamerkan kemenanganku. Ifah hanya meringis. Kia masih tersenyum geli. Belum puas kuhinakan argument ifah, ku buka acak halaman buku itu. Dan meledak lah tawaku. Kubacakan lagi sebaris kalimat yang kebetulan dicetak tebal. Kubaca dengan jeda dan penekanan di tiap kata, bunyinya :
“Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum berkeluarga yang tinggal dalam satu rumah”
Hahaha… memori ku pun terbang ke bangku sekolah dasar puluhan tahun yang lalu. Aku ingat sekali seorang guru telah mengejakanku kalimat serupa. Dia, Guru mata pelajaran penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan). Hah! Romantis dari hongkong???
Namun, kemenanganku ternyata hanya fatamorgana. Lenyap seketika dihembus tawa si Kia.
“Hahaha… sebenarnya cukup kalian lihat keterangan rak itu kale, untuk nemuin jawaban pertanyaanku tadi” Kia berkata kalem. Sumpah! Asli kalem banget dia waktu ngomong, masih dengan senyuman misteriusnya. Otomatis Aku dan Ifah mendongak. OMG! Demi apapun di dunia ini, kenapa Kau sematkan sebuah pertanyaan dodol ke dalam otak Kia? Dan akhirnya kami melakukan tindakan dodol yang jauh banget dari nilai-nilai keagungan intelektualitas.
KESEHATAN. Ya, kata itulah yang kami temukan di atas rak yang masih begitu abadinya berada di belakang kami. Namun, kata itu seperti seorang komposer yang memandu puluhan buku-buku disekitarnya untuk berkata kepada kami bertiga : “You all are freak!” . Mencari makna keromantisan dalam buku-buku bertema kesehatan??? Ow ow ow tidaaak!!! Bagaimana mungkin tiga dara manis ini harus menanggung malu yang teramat sangat di hadapan dewa intelektualitas bernama buku. Oh No!!! Siapapun, prince William, prince Harry, prince Frederic, segala prince di muka bumi ini, help us please!
Tapi, entah setan dari mana yang menghambur dalam kepala kami. Bukannya beristigfar karena tingkat kepintaran yang tererosi, kami malah semakin membabi buta.
“Nah, klo itu kira-kira romantis gaaaaa???” menunjuk buku dengan cover ibu hamil.
“Itu romantis ga?” menunjuk buku bercover anjing.
“Eh eh yang itu romantis ga?” menunjuk buku dengan cover abstrak.
Nah, yang terakhir itu senada dengan ulah kami, nggak jelas!.
Ya Allah, ampunilah kami. Doa ku dalam hati.
_________________________________________________________
Catatan kaki;
~ Pesan Ladies #1 : jangan menilai buku dari kovernya, bisa menyebabkan kegilaan.
~ Pesan Ladies #2 : jangan biarkan anak-anak anda, terutama anak gadis, menatap cover buku terlalu lama. Khawatir ia akan makin menggila.
Dalam perjalanan benak-ku … Dodol #2 : Masa Kecil Kurang Bahagia
Segera hadir!
…and the single ladies are…
Kia : seorang gadis lajang usia matang yang kini terjebak dalam rutinitas Pegawai negeri sipil, suka sekali mengabadikan berbagai ekspresi wajahnya dengan kamera pocket (sering doski melakukannya seorang diri di kamar yang tertutup rapi, hihi)
Ifah : seorang gadis yang juga masih lajang dan usia boleh dibilang matang, berpengalaman sebagai wartawati, baru saja menyelesaikan sarjana-nya yang kedua, sangat ingin pergi ke Jepang dan Belanda (hayooo siapa yang mau mengajak doski honeymoon ke 2 negara itu? Ta’ kasih permen deh ^_^)
Aku (Retno) : seorang gadis yang tentu juga masih sangat lajang dan usia cukup matang, suka banget beli buku online meski bokek, pengen menghabiskan hari tua di sebuah desa dekat pantai (ngarep dapat hibah kaplingan tanah gratis dari Negara, hahaha)
“Guys, coba tebak, kira-kira buku yang judulnya stop the clock itu romantis ga?” tiba-tiba Kia angkat bicara seraya menunjuk buku di deretan belakangku dan Ifah. Senyumnya begitu misterius. Aku dan Ifah saling pandang.
“Hmm… romantis kayaknya” Ifah agak ragu. Tapi sorot matanya berpendar aneh. Aku bergidik. Ah, baru nyadar kalo akhir-akhir ini tuh anak emang bau-bau melo gitu. Hiii…
“Gimana dulu cara kita mengetahui kebenarannya?” tanyaku nyaring. Menantang senyum maut sang penanya.
Kia mulai menampakkan deretan giginya. Geli sendiri rupanya. Melihat kejanggalan dalam diamnya Kia itu, akhirnya Aku dan Ifah memutuskan untuk menoleh ke belakang. Dan… teng tere tengg… sebuah buku tebal bertuliskan “Stopping The Clock” terpajang manis di rak paling atas. Diam angkuh memamerkan kedigjayaannya menjadi the top. Demi melihat cover buku itu, ifah semakin melengkungkan bibirnya.
“Nah, apa kubilang,,,pasti buku romantis tuh?”
Ya. Gambar di cover buku itu memang mengisyaratkan fenomena keromantisan. Sepasang kakek nenek duduk bersisian di sebuah jembatan sembari keduanya menatap ke depan seperti menyaksikan sebuah keindahan yang sangat. Namun sebaris kalimat di atas judul buku itu yang ditulis lebih kecil, membuatku sangat tidak sepakat dengan Ifah.
“Buku gini mana romantisnya buu?” ujarku sambil menjumput sang buku dari peraduannya. Si the top hanya bisa pasrah begitu kedigjayaannya kurenggut dengan mudah. Penjajahan itupun melahirkan kemenangan diwajahku atas Ifah.
“Nih kubacakan ya,,, Stopping The Clock : Sehat Hingga Usia Senja! Hah! Romantis apaan?” kupamerkan kemenanganku. Ifah hanya meringis. Kia masih tersenyum geli. Belum puas kuhinakan argument ifah, ku buka acak halaman buku itu. Dan meledak lah tawaku. Kubacakan lagi sebaris kalimat yang kebetulan dicetak tebal. Kubaca dengan jeda dan penekanan di tiap kata, bunyinya :
“Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum berkeluarga yang tinggal dalam satu rumah”
Hahaha… memori ku pun terbang ke bangku sekolah dasar puluhan tahun yang lalu. Aku ingat sekali seorang guru telah mengejakanku kalimat serupa. Dia, Guru mata pelajaran penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan). Hah! Romantis dari hongkong???
Namun, kemenanganku ternyata hanya fatamorgana. Lenyap seketika dihembus tawa si Kia.
“Hahaha… sebenarnya cukup kalian lihat keterangan rak itu kale, untuk nemuin jawaban pertanyaanku tadi” Kia berkata kalem. Sumpah! Asli kalem banget dia waktu ngomong, masih dengan senyuman misteriusnya. Otomatis Aku dan Ifah mendongak. OMG! Demi apapun di dunia ini, kenapa Kau sematkan sebuah pertanyaan dodol ke dalam otak Kia? Dan akhirnya kami melakukan tindakan dodol yang jauh banget dari nilai-nilai keagungan intelektualitas.
KESEHATAN. Ya, kata itulah yang kami temukan di atas rak yang masih begitu abadinya berada di belakang kami. Namun, kata itu seperti seorang komposer yang memandu puluhan buku-buku disekitarnya untuk berkata kepada kami bertiga : “You all are freak!” . Mencari makna keromantisan dalam buku-buku bertema kesehatan??? Ow ow ow tidaaak!!! Bagaimana mungkin tiga dara manis ini harus menanggung malu yang teramat sangat di hadapan dewa intelektualitas bernama buku. Oh No!!! Siapapun, prince William, prince Harry, prince Frederic, segala prince di muka bumi ini, help us please!
Tapi, entah setan dari mana yang menghambur dalam kepala kami. Bukannya beristigfar karena tingkat kepintaran yang tererosi, kami malah semakin membabi buta.
“Nah, klo itu kira-kira romantis gaaaaa???” menunjuk buku dengan cover ibu hamil.
“Itu romantis ga?” menunjuk buku bercover anjing.
“Eh eh yang itu romantis ga?” menunjuk buku dengan cover abstrak.
Nah, yang terakhir itu senada dengan ulah kami, nggak jelas!.
Ya Allah, ampunilah kami. Doa ku dalam hati.
_________________________________________________________
Catatan kaki;
~ Pesan Ladies #1 : jangan menilai buku dari kovernya, bisa menyebabkan kegilaan.
~ Pesan Ladies #2 : jangan biarkan anak-anak anda, terutama anak gadis, menatap cover buku terlalu lama. Khawatir ia akan makin menggila.
Dalam perjalanan benak-ku … Dodol #2 : Masa Kecil Kurang Bahagia
Segera hadir!
…and the single ladies are…
Kia : seorang gadis lajang usia matang yang kini terjebak dalam rutinitas Pegawai negeri sipil, suka sekali mengabadikan berbagai ekspresi wajahnya dengan kamera pocket (sering doski melakukannya seorang diri di kamar yang tertutup rapi, hihi)
Ifah : seorang gadis yang juga masih lajang dan usia boleh dibilang matang, berpengalaman sebagai wartawati, baru saja menyelesaikan sarjana-nya yang kedua, sangat ingin pergi ke Jepang dan Belanda (hayooo siapa yang mau mengajak doski honeymoon ke 2 negara itu? Ta’ kasih permen deh ^_^)
Aku (Retno) : seorang gadis yang tentu juga masih sangat lajang dan usia cukup matang, suka banget beli buku online meski bokek, pengen menghabiskan hari tua di sebuah desa dekat pantai (ngarep dapat hibah kaplingan tanah gratis dari Negara, hahaha)
Sabtu, 20 Agustus 2011
Najis
Sore tadi buka puasa kantor. Kebetulan aq duduk sama temen-temen lay out. Mr. Yono ama Mr. Ahya. Ada juga wartawan imut, Rama (bukan nama sebenarnya)hihi.
Percakapan 'gila' sama anak-anak layout pun dimulai menjelang berbuka.
Ahya : Eh udah buka ya? Yuk minum.. (sembari mengangkat air kobokan)
Aq dan Yono : (ngakak)
Ngiiiiinngggggg,,,, alhamdulillah buka puasa tiba. Dengan lahap kami pun menyantap hidangan di meja.
Aq : (mencomot potongan ikan di piring) wah enak nih (melahap)
Kebetulan mas pemilik warung makan menghampiri.
Aq : Eh ikan apa nih mas enak betul
Mas : Oh itu belut mba...
Aq : Glek...
Kyaaa... secara aq geli banget klo denger belut. Tapi apa daya. Karena terlanjur enak, kuhabiskan belut itu dimulut. Hehehe
Sehabis berbuka beberapa rekan-rekan pergi solat magrib. Kulihat kedua rekan di mejaku masih asik. Yono masih melahap makanan, sedang Ahya asik ngerokok.
Aq : Eh sudah sono pada solat solat...
Ahya : Haa, tenang mbakyu...
Aq : Opo tenang-tenang...
Ahya : Solat ga bisa sembarang solat (muka ga dosa)
Aq : Halah alasan aja lu
Ahya : Loh bener, solat kan harus bebas dari najis (masih sok innocent)
Aq : emang loe Najis????
Ahya : !!!!! (diam seribu bahasa)
Aq dan Yono : wkwkwkwkwk
Asli! telak banget si Ahya. Sori ya Ya... satu kosong kiteeee ^__^
Met Puasa temen-temen... Moga kita ketemu bada lebaran yeee...
Percakapan 'gila' sama anak-anak layout pun dimulai menjelang berbuka.
Ahya : Eh udah buka ya? Yuk minum.. (sembari mengangkat air kobokan)
Aq dan Yono : (ngakak)
Ngiiiiinngggggg,,,, alhamdulillah buka puasa tiba. Dengan lahap kami pun menyantap hidangan di meja.
Aq : (mencomot potongan ikan di piring) wah enak nih (melahap)
Kebetulan mas pemilik warung makan menghampiri.
Aq : Eh ikan apa nih mas enak betul
Mas : Oh itu belut mba...
Aq : Glek...
Kyaaa... secara aq geli banget klo denger belut. Tapi apa daya. Karena terlanjur enak, kuhabiskan belut itu dimulut. Hehehe
Sehabis berbuka beberapa rekan-rekan pergi solat magrib. Kulihat kedua rekan di mejaku masih asik. Yono masih melahap makanan, sedang Ahya asik ngerokok.
Aq : Eh sudah sono pada solat solat...
Ahya : Haa, tenang mbakyu...
Aq : Opo tenang-tenang...
Ahya : Solat ga bisa sembarang solat (muka ga dosa)
Aq : Halah alasan aja lu
Ahya : Loh bener, solat kan harus bebas dari najis (masih sok innocent)
Aq : emang loe Najis????
Ahya : !!!!! (diam seribu bahasa)
Aq dan Yono : wkwkwkwkwk
Asli! telak banget si Ahya. Sori ya Ya... satu kosong kiteeee ^__^
Met Puasa temen-temen... Moga kita ketemu bada lebaran yeee...
Jadi, eh Ga Jadi!!!
Kemarin, hari jum'at rencananya aq disuruh bos untuk ngeliput lounching buku pejabat yang akan disumbangkan untuk kegiatan sosial. Ceritanya gini nih saat rapat hari kamisnya;
Bos : Ntar jum'at malam liput acara di taman kota ya..(tegas penuh kepastian)
Aku : acara apaan bos?
Bos : loncing buku, rencananya semua penjualan untuk kegiatan sosial
Aku : ooohh... jamnya bos?
Bos : belum tau, si H belum kasih tau tuh.
Jiaaahh... cape deeehh...
Bos : kamu datang aj sebelum buka puasa (datar)
Okelah. Aq sih angguk-angguk aja.Liat aj deh nanti.
Hari Jum'at sore aq udah muter-muter di taman kota. Hmm... ada orang-orang yang sibuk di sana. Loh loh... kok masih mendirikan tenda? kan udah mau magrib. katanya buka puasa bareng... Mau telpon Bos, tapi aq dah hapal bakal akan dapat jawaban nggantung :((
Ahaa!!! Mending aq telpon mas H aj buat pastikan.
Mas H : Ya hallo..
Aku : Mas acar loncing buku jadwalnya jam berapa ya?
Mas H : wah ga tau tuh
(Loh!!!!)
Aku : (melongo) loh kata Bos, mas yang atur jadwalnya
Mas H : bukan, aku cuman di suruh hadir ko, oya acara loncingny kan cuma sisipan, jadi tergantung panitia
Aku : kira-kira kapan ya mas? (mulai cemas)
Mas H : biasanya jam 9 malam baru mulai
Aku : Haaahhhh??? trus jam berapa nih loncingnya? masa tengah malam siihh?
Mas H : Wah bisa jadi tuh, acarany kan emang sampai subuh
Aku : (berteriak dalam hati,, tidaaaakkkk,, guwe cewe baik-baik gitu loh!) ya udah deh, makasih ya mas...
Mas H : sama-sama
klik.
Lah, opooo ikii? moso aq harus nangkring di taman kota tanpa kepastian kapan pulang. Wuaaa... harus telpon Bos nih!
Aku : Hallo bos (suara ga enak banget)
Bos : yap
Aku : tadi saya tanya ke mas H jadwal loncing, ternyata belum ada kepastian, mana mulainya kira-kira jam 9 malam bos,,,
Bos : O iya, mending kamu pulang aja, ga usah diliput. Nanti saya aja yang datang (asli! datar banget!!)
AKu : (mangap) oh.. oke bos. Makasih.
Klik.
alhamdulillah nggak jadi wanita malam aq. Tapi tetep aja dongkol. Bayangin, tadinya ngotot minta liputan, eh giliran aq udah stanby eh ga jadi. Ciaaaattttt....
Bos : Ntar jum'at malam liput acara di taman kota ya..(tegas penuh kepastian)
Aku : acara apaan bos?
Bos : loncing buku, rencananya semua penjualan untuk kegiatan sosial
Aku : ooohh... jamnya bos?
Bos : belum tau, si H belum kasih tau tuh.
Jiaaahh... cape deeehh...
Bos : kamu datang aj sebelum buka puasa (datar)
Okelah. Aq sih angguk-angguk aja.Liat aj deh nanti.
Hari Jum'at sore aq udah muter-muter di taman kota. Hmm... ada orang-orang yang sibuk di sana. Loh loh... kok masih mendirikan tenda? kan udah mau magrib. katanya buka puasa bareng... Mau telpon Bos, tapi aq dah hapal bakal akan dapat jawaban nggantung :((
Ahaa!!! Mending aq telpon mas H aj buat pastikan.
Mas H : Ya hallo..
Aku : Mas acar loncing buku jadwalnya jam berapa ya?
Mas H : wah ga tau tuh
(Loh!!!!)
Aku : (melongo) loh kata Bos, mas yang atur jadwalnya
Mas H : bukan, aku cuman di suruh hadir ko, oya acara loncingny kan cuma sisipan, jadi tergantung panitia
Aku : kira-kira kapan ya mas? (mulai cemas)
Mas H : biasanya jam 9 malam baru mulai
Aku : Haaahhhh??? trus jam berapa nih loncingnya? masa tengah malam siihh?
Mas H : Wah bisa jadi tuh, acarany kan emang sampai subuh
Aku : (berteriak dalam hati,, tidaaaakkkk,, guwe cewe baik-baik gitu loh!) ya udah deh, makasih ya mas...
Mas H : sama-sama
klik.
Lah, opooo ikii? moso aq harus nangkring di taman kota tanpa kepastian kapan pulang. Wuaaa... harus telpon Bos nih!
Aku : Hallo bos (suara ga enak banget)
Bos : yap
Aku : tadi saya tanya ke mas H jadwal loncing, ternyata belum ada kepastian, mana mulainya kira-kira jam 9 malam bos,,,
Bos : O iya, mending kamu pulang aja, ga usah diliput. Nanti saya aja yang datang (asli! datar banget!!)
AKu : (mangap) oh.. oke bos. Makasih.
Klik.
alhamdulillah nggak jadi wanita malam aq. Tapi tetep aja dongkol. Bayangin, tadinya ngotot minta liputan, eh giliran aq udah stanby eh ga jadi. Ciaaaattttt....
Kamis, 04 Agustus 2011
Ngebbuuuttt…
Sore itu, aku bersama tim pemasaran dan wartawan kantor berbuka bersama anak yatim di Banjarbaru. Ini emang program kantor setiap bulan Ramadhan. Kami mengajak pihak atau instansi manapun yang ingin berbagi dengan menggelar buka puasa bareng anak-anak yatim *ceh ceh promo bangettt.
Alhamdulillah, kami didukung oleh rumah makan yang te ope begete *bahasa jadul ^_^* yang dengan sangat rela memberikan harga kinclong pada program itu. Pokokny yang belum pernah makan di sono : R-U-G-iiiiiiiiiiiiiii *sampe giginya kering*. Masakan-masakannya puooollll uenak, khas daerah banget. Hayoo dimana hayooo??? Penasaran khaaannn? Khaaannn? Khaaaannnnnnnnn? *penuh kebanggaan dan kezoliman karena membuat orang penasaran*. Hehe,,, tempat itu namanya RUMAH MAKAN BAKARAN khas BANJAR. Catet nih alamatnya : di Jl. Karang Rejo – Banjarbaru. catet ya! Awas kalo ga di catet bakal penasaran banget loe… *mata dipelototin dikit.
Nah, saat itu tim pemasaran yang hadir adalah Mas Deni ama Mas Adi. Dan… karena kantorku adalah kantor media, maka dari itu, ga bakal ketinggalan membawa satu makhluk yang paling usil bin jahil, yaitu wartawan. Kenapa usil dan jahil? Karena wartawan sukanya nanya-nanya ga jelas dan nulis-nulis ga penting *xixi, sori ya Ma*. Yap! Dan wartawan itu adalah RAMA. Hmm,,, sebenarnya namanya Rahmat Hidayatullah. Bagus kan? Tapi karena ketidakjelasan dan ketidakpentingan tadi Ia mendeklarasikan diri dengan sebutan Rama. Ga jelas dan ga penting kan? Makanya, ga usah di bahas lagi deh ya… :P
Waktu berjalan. Tapi waktu berbuka masih beberapa menit lagi. Aku, Mas Deni sama Rama akhirnya terlibat sebuah perbincangan menarik. Ga tau mulai dari apa dan dari mana, tiba-tiba Rama menanyakan riwayat perjalanan kehidupan rumah tangga Mas Deni *dasar wartawan!
“Wah hidupku ini ngebut Ma ae”
Jawaban Mas Deni ternyata menarikku ikut nimbrung dalam percakapan yang diawali pertanyaan ga jelas dan ga penting tadi *teteeuupp.
“Aku kuliah tuh ngebut lo” Mas Deni berujar bangga.
“Aku baru tau apa itu SKS setelah masuk semester ke 5”
Apaaaa??? Whaaatttt???
Suwerr! Aku sama Rama terkaget-kaget mendengar kejujuran Mas Deni. Ternyata, beliau baru tau apa itu SKS setelah mendengar obrolan teman-temannya yang sudah mempersiapkan diri mengambil tugas akhir. Dan dengan rasa tak bersalah beliau bertanya : Eh SKS itu apaan sih?
Daann… temannya pun dengan teramat sabar menerangkan. Setelah itu, Mas Deni sibuk menghitung-hitung jumlah SKS-nya. Maka, ditemukanlah sebuah fakta yang menyakitkan, bahwa Mas Deni sangat ketinggalan kereta sarjana. Mas Deni berfikir keras. Ia mengambil strategi lobi untuk mendapatkan SKS lebih banyak. And you know what? Mas Deni berhasil lulus mendahului rekan-rekan seangkatannya.
“Dadaagggg” Mas Deni melambai-lambai… *yuk bayangin beliau naik kereta kencana gitu, asyik kan??
Aksi ngebut Mas Deni rupanya tidak cukup sampai di situ. Setelah 6 bulan bekerja, Mas Deni memutuskan mengambil kreditan rumah *wuiihh*.
“Saat itu kan belum punya anak ma istri, jadi beli rumah tuh buat senang-senang aja” tersenyum buanggaaaa… kulihat Rama melongo *awas kesambet Ma.
“Umur 27 aku nikah, ga lama punya anak, mantep to?” Mas Deni menutup ceritanya sambil senyum-senyum.. *puas nih.
Aku sama Rama geleng-geleng. Hikmah kehidupan dari orang tua emang sarat nilai. Ck ck ck…
Ga lama, acara pun dimulai. Kami mendengarkan tausyiah, trus dilanjutkan buka puasa pake kurma, buah pisang, pudding dan es melon. Alhamdulillah… segar rasanya.
Saat melangkah menuju Mushala, aku di sapa Mas Deni.
“Ret, kalo abis magrib ntar aku masih lama, ajak duluan anak-anak makan ya”
“Siiippp… panjang ya doanya Mas?”
“Hehehe…”
“Ngebut nih ye ibadahnya”
“Hehehe…”
“Mo ngebut duluan juga nih masuk syurga-nya Bang?” tiba-tiba Rama nyeletuk. “Yaa, secara abang kan lebih tua,,hehehe”
Masih dengan senyum-senyum Mas Deni berlalu.
Wkwkwk…
Alhamdulillah, kami didukung oleh rumah makan yang te ope begete *bahasa jadul ^_^* yang dengan sangat rela memberikan harga kinclong pada program itu. Pokokny yang belum pernah makan di sono : R-U-G-iiiiiiiiiiiiiii *sampe giginya kering*. Masakan-masakannya puooollll uenak, khas daerah banget. Hayoo dimana hayooo??? Penasaran khaaannn? Khaaannn? Khaaaannnnnnnnn? *penuh kebanggaan dan kezoliman karena membuat orang penasaran*. Hehe,,, tempat itu namanya RUMAH MAKAN BAKARAN khas BANJAR. Catet nih alamatnya : di Jl. Karang Rejo – Banjarbaru. catet ya! Awas kalo ga di catet bakal penasaran banget loe… *mata dipelototin dikit.
Nah, saat itu tim pemasaran yang hadir adalah Mas Deni ama Mas Adi. Dan… karena kantorku adalah kantor media, maka dari itu, ga bakal ketinggalan membawa satu makhluk yang paling usil bin jahil, yaitu wartawan. Kenapa usil dan jahil? Karena wartawan sukanya nanya-nanya ga jelas dan nulis-nulis ga penting *xixi, sori ya Ma*. Yap! Dan wartawan itu adalah RAMA. Hmm,,, sebenarnya namanya Rahmat Hidayatullah. Bagus kan? Tapi karena ketidakjelasan dan ketidakpentingan tadi Ia mendeklarasikan diri dengan sebutan Rama. Ga jelas dan ga penting kan? Makanya, ga usah di bahas lagi deh ya… :P
Waktu berjalan. Tapi waktu berbuka masih beberapa menit lagi. Aku, Mas Deni sama Rama akhirnya terlibat sebuah perbincangan menarik. Ga tau mulai dari apa dan dari mana, tiba-tiba Rama menanyakan riwayat perjalanan kehidupan rumah tangga Mas Deni *dasar wartawan!
“Wah hidupku ini ngebut Ma ae”
Jawaban Mas Deni ternyata menarikku ikut nimbrung dalam percakapan yang diawali pertanyaan ga jelas dan ga penting tadi *teteeuupp.
“Aku kuliah tuh ngebut lo” Mas Deni berujar bangga.
“Aku baru tau apa itu SKS setelah masuk semester ke 5”
Apaaaa??? Whaaatttt???
Suwerr! Aku sama Rama terkaget-kaget mendengar kejujuran Mas Deni. Ternyata, beliau baru tau apa itu SKS setelah mendengar obrolan teman-temannya yang sudah mempersiapkan diri mengambil tugas akhir. Dan dengan rasa tak bersalah beliau bertanya : Eh SKS itu apaan sih?
Daann… temannya pun dengan teramat sabar menerangkan. Setelah itu, Mas Deni sibuk menghitung-hitung jumlah SKS-nya. Maka, ditemukanlah sebuah fakta yang menyakitkan, bahwa Mas Deni sangat ketinggalan kereta sarjana. Mas Deni berfikir keras. Ia mengambil strategi lobi untuk mendapatkan SKS lebih banyak. And you know what? Mas Deni berhasil lulus mendahului rekan-rekan seangkatannya.
“Dadaagggg” Mas Deni melambai-lambai… *yuk bayangin beliau naik kereta kencana gitu, asyik kan??
Aksi ngebut Mas Deni rupanya tidak cukup sampai di situ. Setelah 6 bulan bekerja, Mas Deni memutuskan mengambil kreditan rumah *wuiihh*.
“Saat itu kan belum punya anak ma istri, jadi beli rumah tuh buat senang-senang aja” tersenyum buanggaaaa… kulihat Rama melongo *awas kesambet Ma.
“Umur 27 aku nikah, ga lama punya anak, mantep to?” Mas Deni menutup ceritanya sambil senyum-senyum.. *puas nih.
Aku sama Rama geleng-geleng. Hikmah kehidupan dari orang tua emang sarat nilai. Ck ck ck…
Ga lama, acara pun dimulai. Kami mendengarkan tausyiah, trus dilanjutkan buka puasa pake kurma, buah pisang, pudding dan es melon. Alhamdulillah… segar rasanya.
Saat melangkah menuju Mushala, aku di sapa Mas Deni.
“Ret, kalo abis magrib ntar aku masih lama, ajak duluan anak-anak makan ya”
“Siiippp… panjang ya doanya Mas?”
“Hehehe…”
“Ngebut nih ye ibadahnya”
“Hehehe…”
“Mo ngebut duluan juga nih masuk syurga-nya Bang?” tiba-tiba Rama nyeletuk. “Yaa, secara abang kan lebih tua,,hehehe”
Masih dengan senyum-senyum Mas Deni berlalu.
Wkwkwk…
Senin, 01 Agustus 2011
Ask For Genuine sampe Driver Sound,,, nyambung ga sihh?
Akhirnya aq prustasi jg demi ngeliat wallpaper NB yang ga bisa diganti. Masalahnya ada tamu yg ga diundang (tepatnya ga sengaja keundang) nongol di pojok kanan bawah monitor NB. Dengan eksis-nya itu tamu kagak mau pergi-pergi. Bahkan dengan bangga memamerkan sederet kalimat, "Ask For Genuine". Kyaaaa...
Awalnya sih aq biarin aja, males juga mo ganti-ganti wall. Biarin item gituh. Tapi, OMG, saat NB ku matikan, trus dinyalain lagi, malah muncul tuh tulisan kagak jelas juga, "Resolve Now" en "Resolve leter"...
Tuing-tuing, pussinnggg ddaaahhh...
Apa yang terjadi sebenarnya sssihhh? *manyun
Ku tanya lah ke Sesil, Manajer keuangan di kantor, yg sangat-sangat kebetulan nongol di pintu ruanganku.
"Ini kenapa yo lah?" nunjuk-nunjuk NB
"Kenapa emang?" lah malah balik nanya, kesambet nih orang
"Ini looo,,, netbuk nya ada tulisannya"
"Ya wajar lah, kan dipake ngetik" gubrraakkk... hiks oh kenapa nasibku begini... hu hu hu...
Ku suruh sesil masuk dan menengok wall netbuk.
"Oohh... kayakny kamu menginstall sofware ilegal tuh" cool...
Whaaattttt!!!
Appaaaaa???
Ga mungkinnnn.... *layaknya adegan sinetron yang lamaaaa banget shoot-nya, mata melotot, mulut mlongooo*
Ops! Setelah diingat-ingat, emang kemaren aq download program openoffice.org dari internet dan ku install ke NB-ku. Ah masa sih bisa kayak gini akhirnya???
Waktu berlalu... masalah masih belum terpecahkan. Aq lelah dengan view wall NB-ku yg itu-itu aja... hiks...
Hingga akhirnyaaa.... *teng tereng....*
Aq mendapatkan sebuah pencerahan untuk masalahku. Satu jalan yang seharusnya sudah kutempuh sejak masalah itu muncul *cieee berasa beraatt gitu
Dan pemecahan itu ada diiii.... *teng tereenggg... MR.Google maaannn... *kikiki
Setelah bertanya dan mendapatkan jawaban dari mr. google, aku-pun dapat melenyapkan masalah NB-ku. Ohh.. bahagianya hatikuu... *tersenyum lebaaarrr
Eh,,, eh... tapi tapi tapi *lebayyy*
Kok kok kok... *cih
Aq ga bisa denger apa-apa dari sang NB?
Oh, No! masalah lagi... hu hu hu... *menangis tersedu-sedu
________________________
note : sebenarnya yang salah aku juga sih, asal nge-uninstall program sih... hi hihi
Awalnya sih aq biarin aja, males juga mo ganti-ganti wall. Biarin item gituh. Tapi, OMG, saat NB ku matikan, trus dinyalain lagi, malah muncul tuh tulisan kagak jelas juga, "Resolve Now" en "Resolve leter"...
Tuing-tuing, pussinnggg ddaaahhh...
Apa yang terjadi sebenarnya sssihhh? *manyun
Ku tanya lah ke Sesil, Manajer keuangan di kantor, yg sangat-sangat kebetulan nongol di pintu ruanganku.
"Ini kenapa yo lah?" nunjuk-nunjuk NB
"Kenapa emang?" lah malah balik nanya, kesambet nih orang
"Ini looo,,, netbuk nya ada tulisannya"
"Ya wajar lah, kan dipake ngetik" gubrraakkk... hiks oh kenapa nasibku begini... hu hu hu...
Ku suruh sesil masuk dan menengok wall netbuk.
"Oohh... kayakny kamu menginstall sofware ilegal tuh" cool...
Whaaattttt!!!
Appaaaaa???
Ga mungkinnnn.... *layaknya adegan sinetron yang lamaaaa banget shoot-nya, mata melotot, mulut mlongooo*
Ops! Setelah diingat-ingat, emang kemaren aq download program openoffice.org dari internet dan ku install ke NB-ku. Ah masa sih bisa kayak gini akhirnya???
Waktu berlalu... masalah masih belum terpecahkan. Aq lelah dengan view wall NB-ku yg itu-itu aja... hiks...
Hingga akhirnyaaa.... *teng tereng....*
Aq mendapatkan sebuah pencerahan untuk masalahku. Satu jalan yang seharusnya sudah kutempuh sejak masalah itu muncul *cieee berasa beraatt gitu
Dan pemecahan itu ada diiii.... *teng tereenggg... MR.Google maaannn... *kikiki
Setelah bertanya dan mendapatkan jawaban dari mr. google, aku-pun dapat melenyapkan masalah NB-ku. Ohh.. bahagianya hatikuu... *tersenyum lebaaarrr
Eh,,, eh... tapi tapi tapi *lebayyy*
Kok kok kok... *cih
Aq ga bisa denger apa-apa dari sang NB?
Oh, No! masalah lagi... hu hu hu... *menangis tersedu-sedu
________________________
note : sebenarnya yang salah aku juga sih, asal nge-uninstall program sih... hi hihi
Langganan:
Postingan (Atom)